Ada banyak hal yang bisa memicu keinginan seseorang untuk makan. Tapi pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas mengenai emotional eating untuk mengenal emotional eating secara lebih dalam. Setelah ini, pasti akan timbul pertanyaan seputar, apa itu emotional eating?

Saat kamu makan, tapi sebagai respons dari emosi, itu yang disebut sebagai emotional eating. Bisa diartikan pula kalau emotional eating adalah keinginan untuk makan baik secara sadar atau tidak sadar karena adanya perasaan tertentu, seperti sedih, kecewa, marah, atau sesederhana rasa bosan.

Untuk mengenal emotional eating secara mendalam, ketahui penyebab emotional eating terlebih dahulu, seperti berikut ini:

  • Sulit membedakan antara lapar secara fisik dengan lapar karena dorongan emosional.
  • Menjalani program diet sehingga membuat seseorang menghindari jenis makanan tertentu yang justru akan memicu emotional eating di kemudian hari.
  • Merasa cemas dan beranggapan kalau makan adalah cara terbaik untuk mengusir rasa cemas tersebut.
  • Menghadapi situasi stres dan beranggapan kalau makan adalah hal menyenangkan untuk dilakukan agar rasa stres terlupakan.
  • Keinginan makan yang muncul saat cuaca tertentu atau kondisi tertentu, seperti cuaca dingin, saat lebaran, ataupun saat liburan di mana memungkinkan seseorang menemukan banyak jenis makanan.

Emotional eating bisa ditandai dengan:

  • Memiliki keinginan berlebih (mengidam) secara tiba-tiba.
  • Hanya menginginkan jenis makanan tertentu.
  • Makan secara berlebihan.
  • Merasa malu dan bersalah setelah makan berlebihan.

Pada dasarnya, emotional eating bukan suatu gangguan makan, melainkan salah satu tanda gangguan makan yang bisa menyebabkan gangguan makan di kemudian hari. Seseorang yang mengalami emotional eating menjadikan “makan” sebagai pelarian.

Saat berada pada kondisi tertentu, makan memang bisa menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian terhadap perasaan yang timbul.

Artikl terkait: Apa Arti Mindful Eating? dan Manfaatnya Jika Diterapkan

Dampak Emotional Eating

1. Meningkatnya Risiko Penyakit Kronis

Seseorang yang sering melakukan emotional eating, akan cenderung makan terus menerus, terutama saat mengalami kondisi tertentu seperti kesal, sedih, cemas, dan stres. Kondisi ini bisa memicu kenaikan berat badan (obesitas) yang merupakan gerbang dari penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, dan tekanan darah tinggi.

2. Merasa Bersalah

Tidak menutup kemungkinan seseorang akan menyesal atau merasa bersalah setelah makan penuh dengan emosi, sehingga bisa saja memicu keinginan untuk makan lebih banyak lagi.

3. Mual dan Sakit Perut

Emotional eating bisa menyebabkan rasa kenyang berlebihan karena bertujuan untuk menutupi emosi dengan cara makan. Makan secara berlebihan bisa menyebabkan mual, sakit perut, hingga muntah.

Emosional eating terus menerus bisa menimbulkan dampak berbahaya. Maka dari itu, emotional eating harus segera diatasi. Dikutip dari  Mayo Clinic, cara mengatasi emotional eating bisa dilakukan dengan:

  • Mencatat seluruh makanan yang telah dikonsumsi untuk mendeteksi apakah kamu makan karena lapar fisik atau karena emosi.
  • Apabila emotional eating muncul karena stres, kamu bisa mengelola stres dengan baik, seperti melakukan hobi, yoga, dan meditasi.
  • Menghindari keinginan untuk makan apabila kamu tidak benar-benar merasa lapar.
  • Lebih terbuka kepada teman atau keluarga untuk meluapkan perasaan yang kamu rasakan agar tidak menjadikan makanan sebagai pelarian.
  • Lakukan banyak aktivitas positif, seperti olahraga, menonton televisi, membaca, atau mendengarkan musik.
  • Jangan menyimpan makanan kesukaan di lemari atau kulkas.
  • Tidak membatasi asupan makanan secara berlebihan saat sedang diet.
  • Konsumsi camilan sehat di sela-sela jam makan berat.
  • Belajar dari kesalahan untuk menghindari emotional eating di kemudian hari.

Mengenal emotional eating, seperti mengetahui penyebab, tanda-tanda, dampak, dan cara mengatasinya sangat penting agar kamu bisa menghindari makan secara berlebihan.

Tapi terkadang kita kesulitan untuk mengenali mana yang lapar fisik dan mana yang lapar karena emosi. Maka dari itu, kamu harus membedakan kedua jenis lapar ini.

Tips Membedakan Jenis Lapar

Lapar FisikLapar emosional
Rasa lapar berkembang seiring berjalannya waktu.Rasa lapar timbul secara tiba-tiba.
Merasakan sensasi kenyang yang merupakan israyat bagi kita untuk berhenti makan.Tidak menyadari rasa kenyang, sehingga kamu akan makan terus menerus.
Dipicu oleh seberapa lama kamu makan terakhir kali.Dipicu oleh seberapa lama kamu makan terakhir kali.

Penting untuk membedakan antara jenis lapar fisik dan jenis lapar emosional. Apabila kamu bisa mengenal jenis lapar dengan baik, kamu akan menyadari lapar apa yang sedang kamu rasakan untuk menghindari emotional eating.

Apabila kondisi ini tidak segera teratasi, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih terarah.

About the Author

Sapfa Rista Monika

I am part of a universe's storyteller who actualizes beauties through writing what I call art. As a person who has great interest in world of literacy, I love to share many things by writing in benefitness.

View All Articles