Kenapa Produk Herbal Lokal Mulai Dilirik Dibanding Obat Kimia?

Kenapa Produk Herbal Lokal Mulai Dilirik Dibanding Obat Kimia?

Herbal Lokal vs Obat Kimia: Kenapa Banyak Orang Mulai Melirik Herbal dan Cara Memilihnya dengan Cerdas

Di apotek, warung jamu, hingga marketplace, produk herbal lokal kini semakin mudah ditemukan, dan banyak orang mulai menimbang apakah sebaiknya memilih herbal atau tetap berpegang pada obat dari dokter. Sebuah survei yang dikutip dalam kajian Fakultas Farmasi UGM menyebut sekitar 45% masyarakat Indonesia lebih memilih obat herbal daripada obat kimia, dengan alasan ekonomis serta anggapan bahwa obat alami lebih aman, dan pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah anggapan itu benar serta bagaimana memilih dengan cerdas tanpa terjebak slogan alami atau kimia.

Artikel ini membahas perbedaan obat kimia dan obat herbal, cara pembuatannya, perbandingan keamanan dan keampuhannya, data risiko dari kedua sisi, alasan herbal makin dilirik, serta panduan memilih produk yang aman. Pembahasan utamanya merujuk pada kajian Mana yang Lebih Aman, Obat Kimia atau Herbal? dari Fakultas Farmasi UGM yang dipublikasikan pada 28 Mei 2025, dilengkapi dengan penjelasan praktis untuk konsumen.

Ringkasan Singkat

Obat kimia (obat konvensional) unggul dalam bukti klinis, dosis terukur, dan kecepatan kerja sehingga menjadi pilihan utama untuk kondisi akut dan penyakit serius, sedangkan herbal lokal berakar pada tradisi dan lebih tepat dipandang sebagai pendamping untuk pencegahan, gejala ringan, atau terapi jangka panjang, dengan syarat produknya terstandar dan terdaftar. Keduanya punya risiko: obat kimia dapat menimbulkan efek samping dan interaksi, sementara herbal bisa bermasalah pada standardisasi dosis, kontaminasi, bahan kimia obat ilegal, dan interaksi dengan obat dokter. Karena itu pilihan sebaiknya didasarkan pada bukti, izin edar, dan saran tenaga kesehatan, bukan pada label alami atau kimia.

Catatan: artikel ini bersifat informasional dan tidak menggantikan saran dokter atau apoteker, terutama bila Anda sedang menjalani pengobatan.

Apa Itu Obat Kimia dan Apa Itu Obat Herbal?

Obat kimia, atau obat konvensional, adalah obat yang mengandung zat aktif hasil sintesis atau semisintesis yang efek terapinya telah dibuktikan secara ilmiah, dan contoh yang lazim ditemui di fasilitas pelayanan kesehatan antara lain parasetamol, amoksisilin, omeprazol, dan digoksin. Obat jenis ini diatur ketat oleh otoritas kesehatan dan diproduksi dengan standar tinggi, karena setiap zat aktifnya harus melewati rangkaian pembuktian keamanan, khasiat, dan mutu sebelum boleh beredar.

Obat herbal, yang dalam regulasi Indonesia termasuk kelompok obat bahan alam, adalah produk yang berasal dari sumber daya alam seperti tumbuhan, hewan, jasad renik, dan mineral, dan sudah digunakan secara turun-temurun untuk memelihara kesehatan, meningkatkan daya tahan, serta mencegah penyakit berdasarkan pengalaman empiris. Pendaftarannya diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat Bahan Alam, dan Badan POM membedakannya menjadi tiga tingkat berdasarkan kekuatan buktinya.

Jenis

Dasar bukti dan standardisasi

Contoh (menurut kajian UGM)

Obat kimia (konvensional)

Zat aktif sintetis atau semisintetis yang melalui uji praklinik dan uji klinik, diproduksi sesuai CPOB

Parasetamol, amoksisilin, omeprazol, digoksin

Jamu

Berbasis pengalaman turun-temurun; bahannya tidak diwajibkan melalui standardisasi

Jamu racikan tradisional

Obat herbal terstandar

Bahan bakunya sudah melalui proses standardisasi

Tolak Angin, Diapet

Fitofarmaka

Efektivitas dan keamanannya dibuktikan melalui uji praklinik dan uji klinik

Stimuno

 Satu hal yang sering luput adalah bahwa istilah obat kimia sebenarnya kurang tepat sebagai lawan dari yang alami, karena semua zat, termasuk kandungan tanaman, tersusun dari senyawa kimia, dan sejumlah obat modern justru berasal dari tumbuhan, misalnya artemisinin untuk malaria. Perbedaan yang sebenarnya terletak pada tingkat standardisasi dan kekuatan bukti ilmiah, bukan pada alami atau tidaknya sumber bahan.

Bagaimana Cara Membuat Obat Kimia dan Obat Herbal?

Menurut BPOM yang dirujuk kajian UGM, pembuatan obat kimia melalui serangkaian tahap ketat: bahan aktif ditemukan dan disintesis, diuji pada tahap praklinik menggunakan hewan, kemudian diuji pada manusia dalam uji klinik, dan baru setelah itu diformulasikan serta diproduksi dalam skala besar sesuai standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Setiap tahap bertujuan memastikan zat aktif yang sama dalam jumlah yang sama akan memberi efek dan risiko yang dapat diperkirakan pada setiap pemakainya.

Obat herbal umumnya dimulai dari bahan tanaman yang dipilih dan diolah menjadi simplisia, rebusan, serbuk, atau ekstrak, dan di sinilah tantangan utamanya muncul, karena kandungan zat aktif pada tanaman dipengaruhi oleh kondisi tanaman, metode pengolahan, serta takaran yang digunakan, yang sering kali tidak terukur dengan jelas. Itulah alasan tingkat standardisasi menjadi pembeda penting, dari jamu yang tidak wajib distandardisasi, obat herbal terstandar yang bahan bakunya distandardisasi, hingga fitofarmaka yang sudah melalui uji praklinik dan klinik.

Aspek

Obat kimia

Obat herbal

Bahan awal

Zat aktif hasil sintesis atau semisintesis

Tumbuhan, hewan, jasad renik, atau mineral

Pembuktian

Uji praklinik pada hewan, lalu uji klinik pada manusia

Jamu berbasis pengalaman; obat herbal terstandar melalui standardisasi bahan baku; fitofarmaka melalui uji praklinik dan klinik

Konsistensi kandungan

Dosis zat aktif tetap dan terukur

Dipengaruhi kondisi tanaman, pengolahan, dan takaran

Produksi

Mengikuti CPOB

Mengikuti standar produksi obat tradisional (CPOTB)

Izin edar

Registrasi dan pengawasan mutu oleh BPOM

Registrasi BPOM sebagai obat bahan alam

Ampuh Mana, Obat Kimia atau Herbal? Perbandingan Keamanan dan Efektivitas

Tidak ada jawaban tunggal, karena keampuhan bergantung pada kondisi yang diobati, kekuatan bukti, dan ketepatan dosis. Obat kimia dirancang dengan dosis terukur dan telah melalui uji klinis ketat, efeknya cenderung lebih cepat sehingga cocok untuk kondisi akut dan penyakit serius, tetapi ia juga berpotensi menimbulkan efek samping seperti gangguan hati atau ginjal dan reaksi alergi, risiko ketergantungan pada jenis tertentu seperti analgesik opioid atau obat penenang, serta interaksi antarobat yang harus diperhatikan.

Herbal sering dianggap lebih aman karena berasal dari alam dan dianggap berefek samping ringan, namun menurut laporan WHO tahun 2019 yang dirujuk kajian UGM, tantangan utamanya adalah kurangnya standardisasi dosis dan minimnya uji klinis yang memadai. Dosis yang sulit dipastikan membuat efektivitasnya bisa bervariasi, dan herbal dapat berinteraksi dengan obat kimia, misalnya St. John's wort yang dapat mengurangi efektivitas antidepresan maupun antikoagulan. Di sisi lain, para ahli fitofarmaka memandang herbal sebagai warisan budaya dengan potensi terapeutik yang besar, terutama untuk pencegahan penyakit dan pengelolaan gejala ringan.

Aspek

Obat kimia

Obat herbal

Dosis

Terukur dan seragam

Sulit dipastikan pada produk yang belum terstandar

Bukti ilmiah

Uji klinis ketat

Bervariasi; uji klinis masih terbatas pada banyak produk

Kecepatan efek

Cenderung cepat, cocok untuk kondisi akut

Umumnya lebih lambat, lebih tepat sebagai pendamping

Risiko utama

Efek samping, ketergantungan, interaksi antarobat

Dosis tidak pasti, kontaminasi, bahan kimia obat ilegal, interaksi

Peran yang paling sesuai

Penyakit serius dan kondisi akut

Pencegahan, gejala ringan, atau pendamping terapi jangka panjang yang terstandar

Kesimpulan para ahli farmasi dalam kajian UGM sejalan: obat kimia lebih unggul untuk terapi akut dan penyakit berat, sedangkan herbal dapat menjadi pendukung terapi jangka panjang dengan efek samping minimal, asalkan produknya sudah terstandar, dan keduanya sebaiknya dikombinasikan hanya setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemilihan yang bijak bertumpu pada prinsip pengobatan berbasis bukti, bukan sekadar preferensi pribadi terhadap bahan alami atau kimia.

Risiko Nyata dari Kedua Sisi: Apa Kata Data?

Obat kimia yang menyelamatkan nyawa pun bisa berisiko bila digunakan tanpa indikasi yang tepat, dan contoh paling nyata adalah antibiotik. WHO melaporkan bahwa resistensi antimikroba kini menjadi salah satu ancaman kesehatan global paling signifikan, di mana pada tahun 2019 resistensi bakteri menjadi penyebab langsung sekitar 1,27 juta kematian dan berkontribusi pada sekitar 4,95 juta kematian di seluruh dunia. Selama pandemi COVID-19, hanya sekitar 8% pasien yang mengalami infeksi bakteri, tetapi sekitar 75% di antaranya diberi antibiotik sebagai tindakan pencegahan, yang mempercepat peningkatan resistensi.

Herbal pun tidak bebas risiko. Salah satu kasus paling dikenal terjadi di Belgia pada awal 1990-an, ketika lebih dari 100 pasien mengalami gagal ginjal setelah mengonsumsi suplemen penurun berat badan yang mengandung tanaman Aristolochia fangchi, yang ternyata mengandung asam aristolokat yang bersifat merusak ginjal dan memicu kanker. Banyak produk herbal juga ditemukan terkontaminasi logam berat seperti timbal, merkuri, dan arsenik yang dapat merusak ginjal dan sistem saraf serta meningkatkan risiko kanker, dan sebuah studi di Nigeria menunjukkan bahwa meski 82,4% responden percaya obat herbal aman, 12,6% di antaranya mengalami efek samping setelah memakainya. Di Indonesia, kajian UGM juga mengingatkan bahwa banyak produk herbal belum melalui uji efektivitas dan sebagian mengandung bahan kimia obat (BKO) ilegal.

KLARIFIKASI PENTING MITOS HERBAL DAN OBAT KIMIA YANG PERLU DIKOREKSI

Mitos pertama adalah anggapan bahwa semua yang alami pasti aman, padahal tanaman obat dapat bersifat toksik bila dikonsumsi berlebihan, diolah tidak tepat, atau dikombinasikan dengan obat medis, dan sebagian tanaman mengandung zat yang berbahaya bagi ginjal. Mitos kedua adalah anggapan bahwa obat kimia selalu berbahaya dan herbal bebas efek samping, sedangkan kenyataannya obat kimia aman bila digunakan sesuai indikasi, dosis, dan cara pakai, dan herbal memiliki risiko tersendiri.

Mitos ketiga adalah anggapan bahwa herbal boleh menggantikan obat dari dokter, padahal menghentikan obat resep tanpa konsultasi dapat membahayakan, terutama pada penyakit kronis. Mitos keempat adalah anggapan bahwa produk herbal yang terasa manjur seketika pasti bagus, padahal efek instan justru dapat menjadi tanda adanya bahan kimia obat ilegal.

Yang benar: keamanan obat, baik kimia maupun herbal, bergantung pada penggunaan yang tepat, dosis yang sesuai, dan pemantauan tenaga kesehatan.

Kenapa Banyak Orang Mulai Melirik Herbal Sekarang?

Alasan yang paling sering disebut adalah persepsi bahwa bahan alami lebih aman dan murah, sebagaimana tercermin pada survei yang dikutip kajian UGM, ditambah faktor kebiasaan keluarga. Sebuah penelitian yang juga dirujuk kajian tersebut menemukan bahwa sekitar 65,2% responden mengetahui obat herbal, sedikit lebih tinggi dibanding 62,1% yang mengetahui obat kimia, dan tingginya pengetahuan ini diduga dipengaruhi kebiasaan menggunakan obat tradisional yang diturunkan oleh orang tua dan keluarga. Dengan kata lain, herbal terasa dekat karena menjadi bagian dari budaya, mulai dari jamu hingga tanaman seperti daun kelor yang sering dimanfaatkan di dapur dan halaman rumah.

Tren gaya hidup sehat, cerita yang beredar di media sosial, dan kekhawatiran terhadap efek samping obat ikut mendorong minat ini, dan semangat kembali ke pangan lokal pun semakin kuat, seperti terlihat pada ulasan tentang ragam makanan pokok Nusantara selain nasi dan manfaat serta kandungan gizi umbi garut. Namun minat yang tinggi tidak otomatis berarti produknya aman atau terbukti. Sebagai contoh ulasan berbasis bukti tentang satu herbal yang populer, Anda dapat membaca artikel kunyit untuk asam lambung, lengkap dengan cara minum dan berapa lama efeknya, yang juga membahas kapan sebaiknya berhenti mengandalkan herbal dan mulai ke dokter.

Cara Memilih Produk Herbal dengan Cerdas

Konsumen cerdas tidak memilih berdasarkan label alami atau kimia, melainkan berdasarkan beberapa hal yang bisa dicek sendiri sebelum membeli, mulai dari izin edar hingga kecocokan produk dengan kondisi tubuh Anda:

Yang dicek

Kenapa penting

Izin edar BPOM

Cek nomor izin edar melalui laman atau aplikasi Cek BPOM agar produk benar-benar terdaftar dan diawasi

Kategori produk

Bedakan jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka, suplemen, dan pangan olahan karena tingkat bukti dan klaim yang boleh dicantumkan berbeda

Komposisi dan dosis

Komposisi dan aturan pakai yang jelas membantu menghindari konsumsi berlebihan, apalagi kandungan zat aktif herbal bisa bervariasi

Klaim yang wajar

Waspada produk yang menjanjikan sembuh cepat dari banyak penyakit sekaligus atau efek yang terlalu instan, karena dapat mengandung bahan kimia obat ilegal

Riwayat kesehatan dan obat

Beri tahu dokter atau apoteker bila Anda minum obat rutin, hamil, menyusui, atau memiliki penyakit kronis agar interaksi bisa dicegah

Cara membaca label

Periksa komposisi, takaran saji, dan peringatan; panduannya ada di artikel cara membaca label nutrisi di bawah

 

📌 KUNCI MEMILIH PRODUK HERBAL DENGAN CERDAS

Herbal dan obat kimia bukan dua kubu yang harus dipertentangkan, karena masing-masing punya kekuatan dan keterbatasan. Yang membedakan pilihan bijak dari pilihan berisiko adalah kemauan mengecek izin edar, memahami klaim, dan menimbang kecocokan produk dengan kondisi tubuh sendiri bersama tenaga kesehatan.

KUNCI PRAKTIS: sebelum membeli, cek izin edar BPOM, baca label, dan tanyakan ke apoteker atau dokter bila Anda sedang minum obat lain.

 

Bolehkah Herbal dan Obat Kimia Digunakan Bersamaan?

Jawabannya bisa, tetapi tidak boleh sembarangan, karena herbal dapat memengaruhi cara kerja obat kimia, seperti contoh St. John's wort yang dapat menurunkan efektivitas antidepresan dan antikoagulan. Langkah yang aman adalah menyebutkan semua produk herbal yang Anda konsumsi kepada dokter atau apoteker, tidak menghentikan obat resep tanpa arahan, memberi jeda dan memantau reaksi tubuh bila mencoba produk baru, serta segera menghentikan produk jika muncul keluhan yang tidak biasa.

Pangan Lokal Bukan Obat: Posisi Nutriflakes

Perlu dibedakan antara obat herbal dan pangan olahan berbahan lokal. Nutriflakes, minuman serbuk berbahan umbi garut, terdaftar di BPOM sebagai minuman serbuk umbi garut dengan nomor registrasi MD 071135000500047, yang menunjukkan kategori pangan olahan, bukan obat. Karena itu, Nutriflakes berperan sebagai pelengkap pola makan, tidak dimaksudkan untuk mengobati penyakit, dan tidak menggantikan obat dari dokter. Anda dapat melihat informasi registrasi BPOM Nutriflakes, mengenal komposisinya di artikel isi satu gelas Nutriflakes dan peran bahan-bahannya, memahami alasan umbi garut dipilih sebagai bahan dasar Nutriflakes, dan menilai kalori, gula, serta serat per sajian lewat panduan cara membaca label nutrisi.

Kapan Perlu ke Dokter atau Apoteker?

Konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum memakai produk herbal bila Anda sedang minum obat resep, hamil atau menyusui, atau memiliki penyakit kronis, dan jangan menunda pemeriksaan bila keluhan berat atau berulang.

RED FLAGS: KAPAN PRODUK HERBAL HARUS DIHENTIKAN DAN DIPERIKSAKAN

Segera hentikan produk herbal dan periksakan diri bila muncul ruam, bengkak, sesak napas, mual muntah hebat, pusing berat, atau perubahan pada buang air kecil setelah mengonsumsinya. Waspadai pula produk yang efeknya terasa sangat cepat dan instan, karena kajian UGM mengingatkan adanya produk herbal yang mengandung bahan kimia obat ilegal, dan jangan menghentikan obat resep untuk menggantinya dengan herbal tanpa berbicara dengan dokter.

Keluhan yang berat, berulang, atau tidak membaik tidak boleh hanya ditangani dengan herbal.

Pertanyaan Umum (FAQ)

  • Apakah obat herbal lebih aman daripada obat kimia?

    Tidak otomatis, karena keamanan bergantung pada bahan, dosis, standardisasi, kondisi pengguna, dan ada tidaknya interaksi, sehingga baik herbal maupun obat kimia perlu digunakan sesuai aturan dan anjuran tenaga kesehatan.

  • Apa bedanya obat herbal dan obat kimia?

    Obat kimia memiliki zat aktif sintetis atau semisintetis yang diuji ketat melalui uji praklinik dan klinik dengan dosis terukur, sedangkan obat herbal berasal dari bahan alam dengan tingkat bukti yang bervariasi, mulai dari pengalaman turun-temurun pada jamu, standardisasi pada obat herbal terstandar, hingga uji klinik pada fitofarmaka.

  • Mana yang lebih baik, jamu atau obat?

    Tergantung kondisinya: obat kimia lebih unggul untuk kondisi akut dan penyakit serius, sedangkan jamu atau herbal terstandar lebih tepat sebagai pendamping untuk pencegahan, gejala ringan, atau terapi jangka panjang, dan keduanya sebaiknya tidak dicampur tanpa konsultasi.

  • Bagaimana cara mengetahui produk herbal sudah terdaftar BPOM?

    Periksa nomor izin edar pada kemasan lalu cocokkan melalui laman atau aplikasi Cek BPOM, dan waspadai produk tanpa nomor izin edar atau dengan klaim yang berlebihan.

  • Apakah herbal boleh diminum bersama obat dokter?

    Sebaiknya tidak tanpa konsultasi, karena sebagian herbal dapat berinteraksi dengan obat dan mengubah efektivitasnya, jadi sampaikan semua produk yang Anda konsumsi kepada dokter atau apoteker.

Kesimpulan

Herbal lokal dan obat kimia tidak perlu dipertentangkan, karena masing-masing punya peran dengan kekuatan dan keterbatasannya sendiri: obat kimia unggul untuk kondisi akut dan penyakit serius dengan bukti yang kuat, sedangkan herbal yang terstandar dapat menjadi pendamping untuk pencegahan dan gejala ringan. Orang mulai melirik herbal karena dekat dengan tradisi dan dianggap alami, tetapi yang terpenting adalah bersikap cerdas dengan mengecek izin edar, memahami klaim, membaca label, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memadukan atau mengganti pengobatan.

Bagikan Artikel: