Kesehatan Mental Gen Z — Gen Z atau generasi Z merupakan orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012.  Saat ini, golongan anak muda berusia 18-24 tahun tersebut sudah masuk dalam kategori usia produktif.

Gen Z juga merupakan individu yang memiliki kaitan erat dengan kecanggihan teknologi, namun hal itu malah menjadi boomerang karena banyak dari Gen Z yang dikabarkan mudah menderita penyakit mental.

Hal ini kemudian menimbulkan banyak anggapan yang berkembang di masyarakat dimana Gen Z dikenal sebagai generasi tidak tahan banting dan mudah stres. Sebenarnya, apakah yang menyababkan gen z rentan stress?

Kesehatan Mental Generasi Z, Mengapa Mereka Rentan Stress ataupun Depresi?

Di tengah distrupsi media sosial, masyarakat semakin dipermudah mendapatkan informasi terhadap issue-issue tertentu yang disuguhkan melalui media sosial. Gen Z tumbuh di era teknologi digital tersebut, sangat terhubung dengan media sosial sehingga generasi tersebut terpapar begitu banyak informasi bahkan dari wilayah paling jauh sekalipun.

mental_health_issue

Generasi Z lebih lama menghabiskan waktunya dalam mengakses media sosial ketimbang kelompok usia lainnya di dunia. Berdasarkan hasil survei McKinsey, ada 58% responden dari generasi Z yang menghabiskan lebih dari satu jam waktunya untuk bermain media sosial.

Sebagai generasi yang tumbuh dengan kecanggihan teknologi, Gen Z cenderung mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan informasi dan terkoneksi secara online.  Di tengah pencarian jati diri, berhadapan dengan suatu kenyataan yang cukup berbeda dari yang diperlihatkan oleh dunia maya, membuat generasi ini mudah membandingkan diri sendiri dan orang lain. Apalagi ditengah narasi kesuksesan yang selalu dilihat dari kacamata “kapitalisme”.

Malu karena gagal memenuhi standar “sukses” yang diciptakan oleh media sosial juga menjadi beberapa pemicu timbulnya stress pada Gen Z. Dalam laporan Wall Street Journal, dijelaskan bahwa satu dari tiga gadis remaja mengalami krisis citra diri akibat Instagram. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa berita negatif yang datang silih berganti dan rasa takut ketinggalan segala sesuatu yang terbaru atau FOMO (fear of missing out) juga menjadi salah satu penyebabnya. Tumbuh di dunia yang saling terkoneksi hanya secara online juga dapat menimbulkan perasaan kesepian dan terisolasi.

Peningkatan masalah kesehatan mental pada generasi Gen Z juga tidak lepas dari efek pandemi Covid-19. Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Boston menunjukkan bahwa angka depresi meningkat hampir 33 persen pada 2021. 

Gen Z tidak tahan banting di dunia kerja, Kenapa?

Stigma Gen Z “mental tempe” dan “tidak tahan banting”, santer diperbincangkan di media sosial. Hal tersebut sejalan dengan survei menurut Cigna International Health pada tahun 2023 dimana terhadap hampir 12.000 pekerja di seluruh dunia, 91% pekerja berusia 18 hingga 24 tahun dilaporkan mengalami stres. Salah satu penyebabnya adalah Gen Z harus dihadapkan dengan memulai karir selama atau setelah pandemi. Kondisi ini menempatkan mereka dalam situasi yang sangat sulit.

Selain itu, menurut data McKinsey and Company menunjukkan bahwa generasi Z berjuang lebih keras dibandingkan generasi lainnya untuk mencapai sesuatu. Gaji mereka tidak memungkinkan untuk memiliki “kualitas hidup yang baik” dalam perekonomian saat ini. Generasi Z menabung lebih sedikit dan banyak dari mereka yang hidup dari gaji ke gaji. Apalagi keinginan untuk memiliki rumah, Gen Z bahkan tidak pernah berharap untuk memiliknya.

Konsultasi Kesehatan Mental Bersama Ahlinya

Kesehatan mental sudah selayaknya lebih dibicarakan secara terbuka, terutama pada anak-anak generasi Z. Dalam menghadapi tantangan kesehatan mental ini, penting bagi semua generasi untuk menaruh perhatian pada issue ini. Kepedulian sesama generasi Gen Z ataupun generasi lainnya sangatlah penting.

Oleh karena itu issue ini sebaiknya tidak disepelakan ataupun dianggap masalah kecil. Karena bagaimanapun Gen Z dihadapkan dengan tantangan dan situasi yang berbeda dan masalah kesehatan mental yang terjadi pada mereka nyata adanya.

Anggapan yang perlu dibangun adalah pemahaman bahwa pergi ke Profesional bukan sesuatu yang tabu. Adapun layanan konsultasi dengan professional baik online maupun offline terbuka lebar diberbagai platfrom.

Selain itu, konsultasi kesehatan jiwa yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bisa diakses di hotline 119 extension 8. Layanan BPJS Kesehatan juga bisa dimanfaatkan karena membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan.

Ayo peduli dengan kesehatan mental diri dan sekeliling kita. Simak artikel kesehatan yang kami sajikan, pantau terus agar tidak ketinggalan.

About the Author

Uli Rahma

Interested in writing anything from my head related to health and lifestyle issues from other perspectives.

View All Articles