Bahaya GERD yang Diabaikan: Dari Anxiety hingga Risiko Kanker (Review dr.Kresna Dharma, BMedSci, Sp.PD, M.K.M)

Bahaya GERD yang Diabaikan: Dari Anxiety hingga Risiko Kanker (Review dr.Kresna Dharma, BMedSci, Sp.PD, M.K.M)

Apa sebenarnya perbedaan antara maag biasa, GERD, dan gangguan psikosomatis? Banyak orang menganggap remeh nyeri lambung, padahal jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, gangguan pencernaan kronis bisa memicu komplikasi serius, termasuk kanker esofagus.

Dalam sesi Nutri Talk Podcast terbaru, dr. Kresna, seorang spesialis penyakit dalam (internis), membedah tuntas kaitan antara pola hidup, kesehatan mental, hingga risiko mutasi genetik pemicu kanker. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Mengenal Ruang Lingkup Penyakit Dalam

Dokter spesialis penyakit dalam menangani keluhan kesehatan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cakupannya meliputi sistem pencernaan (gastroenterologi), ginjal, paru-paru, jantung, hingga darah dan kanker (hemato-onkologi).

Salah satu bidang yang kini mulai banyak diperhatikan adalah Psikosomatis. Bidang ini menangani hubungan antara gejala fisik dan kondisi psikologis, terutama pada pasien penyakit kronis. Hal ini membuktikan bahwa kesehatan lambung dan pikiran tidak bisa dipisahkan.

GERD vs Gastritis: Apa Bedanya?

Seringkali pasien salah kaprah menyebut semua nyeri perut sebagai "maag". Dokter Kresna menjelaskan perbedaan mendasarnya:

KondisiDeskripsiMekanisme Penyebab
GastritisPeradangan pada dinding (mukosa) lambung.Infeksi bakteri H. pylori atau iritasi asam yang merusak lapisan pelindung lambung.
GERDNaiknya isi lambung ke kerongkongan.    Malfungsi atau melemahnya katup pembatas (LES) antara lambung dan esofagus.

Gejala Khas GERD: Rasa asam/pahit di mulut, dada terasa terbakar (heartburn), dan rasa sesak yang seringkali memicu kepanikan.

Kaitan Erat Lambung dan Pikiran (Gerd Anxiety)

Pernahkah Anda merasa asam lambung naik saat sedang stres atau cemas? Ini adalah fenomena Gut-Brain Axis. Stres psikologis mengirimkan sinyal ke lambung untuk memproduksi asam secara berlebihan.
Kondisi ini disebut gangguan fungsional, di mana secara anatomi mungkin tidak ada luka besar, namun fungsinya terganggu karena tekanan mental. Penanganannya pun tidak cukup hanya dengan obat pelapis lambung, tapi juga manajemen stres dan dukungan psikologis. Baca: Gejala GERD Anxiety: 1001 Sensasi Mulai dari Tanda Fisik hingga Mental

Waspada Mutasi Genetik dan Risiko Kanker

Dokter Kresna juga menyoroti peningkatan kasus kanker yang kian mengkhawatirkan. Kanker muncul akibat mutasi genetik (seperti pada gen P53) yang menyebabkan pembelahan sel menjadi tidak terkendali.

  • Tumor vs Kanker: Tumor adalah segala jenis benjolan (bisa jinak), sedangkan kanker adalah tumor ganas yang bersifat agresif.
  • Komplikasi GERD: Peradangan kronis pada kerongkongan akibat asam lambung (esofagitis) yang tidak diobati dapat berkembang menjadi Barrett’s Esophagus, yang merupakan pintu masuk menuju kanker esofagus.
  • Faktor Risiko: Pola makan buruk (junk food), konsumsi gula berlebih, dan gaya hidup tidak aktif mempercepat kerusakan sel tubuh.

Strategi Pemulihan: Pola Makan dan Nutrisi Tepat

Untuk memutus rantai gejala asam lambung dan mencegah komplikasi, dr. Kresna menyarankan beberapa modifikasi gaya hidup:

1. Prinsip 80% Kenyang

Hindari makan sampai terlalu kenyang. Tekanan berlebih pada lambung akan memaksa katup kerongkongan terbuka, memicu refluks. Berhentilah makan saat Anda merasa 80% kenyang.

2. Cukupi Kebutuhan Serat Harian

Data menunjukkan kurang dari 10% masyarakat Indonesia yang memenuhi kebutuhan serat harian. Serat sangat penting untuk meredakan peradangan dan mendukung kesehatan mikrobioma usus.

3. Konsumsi Makanan Gastroprotektif

Dalam masa pemulihan, sangat disarankan mengonsumsi makanan yang mampu melapisi mukosa lambung. Nutriflakes, dengan kandungan utama pati umbi garut, dikenal secara medis memiliki sifat gastroprotektif yang melindungi dinding lambung dari iritasi asam.

4. Manajemen Stres dan Tidur

Tidur berkualitas selama 7-8 jam sangat krusial bagi regenerasi sel tubuh. Selain itu, hindari berbaring sesaat setelah makan (beri jeda minimal 2-3 jam).

Kesimpulan

Penyakit dalam, terutama gangguan lambung, adalah masalah kompleks yang dipengaruhi oleh apa yang kita makan dan apa yang kita pikirkan. Jangan abaikan gejala GERD atau gastritis, karena peradangan jangka panjang adalah awal dari masalah kesehatan yang lebih besar.

Mulailah menyayangi lambung Anda dengan pola makan teratur, manajemen stres yang baik, dan asupan nutrisi alami seperti pati umbi garut yang terdapat dalam Nutriflakes untuk perlindungan pencernaan setiap hari.

Simak obrolan selengkapnya di chanel Nutriflakes atau klik video di bawah ini yaa:

Bagikan Artikel: